Jumat, 03 Januari 2014

Masjid Pertama

Lanjut cerita mengenai perjalanan Umrah, esok harinya, Sabtu 21 Desember 2013 rombongan kami melakukan ziarah ke Masjid Quba, kebun kurma, Jabal Uhud dan Jabal Magnet. Kami rombongan bus 4 berangkat, dalam perjalanan menuju Masjid Quba, kami melewati bagian belakang Masjid Nabawi. Tanah yang amat sangat luas, yakni ratusan kuburan para sahabat nabi yang memperjuangkan agama Islam, berjuang sampai akhir hayat. Sambil juga melihat kanan kiri, tidak ada rumput. Bus juga melewati masjid Jum’at, Masjid ini digunakan oleh Rasulullah untuk shalat Jum’at ketika pertama kali sampai Madinah.

Perlu tahu, Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah ketika sampai di Madinah, yang setelah itu dibangun Masjid Nabawi. Masjid Quba warnanya putih, besar (apalagi lapangan parkirnya), dan banyak yang jualan. Katanya Ustad Muslim yaa (dari hadits), barangsiapa yang dari rumahnya telah bersuci dan berwudhu lalu shalat Tahiyatul Masjid di Masjid Quba, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala Umrah. Jadi saya sudah berwudhu dari hotel, lalu shalat Tahiyatul masjid, artinya walaupun saya cuma ikut Umrah sekali pahalanya dapat dua.


Setelah dari masjid, kami pergi ke kebun kurma, sebenarnya pasar kurma dan herbal Arab karena kebunnya tidak kelihatan. Belum ada lima menit kita sudah sampai di kebun kurma, padahal masih makan kacang. Disini saya minum teh Arab yang rasanya gak jauh dari Sariwangi (gelasnya ganti-gantian), sambil menunggu ibu dan eyang-eyang beli barang (katanya) diskon. Lihat-lihat ke dalam toko kurmanya, ada kurma dari harga 15 Riyal sampai 100 Riyal/kg (Ajwa), ada juga manisan buah dan kacang-kacangan. Yang gak enaknya, rombongan kita (ibu dan eyang-eyang) itu yang terakhir selesai belanja, jadi ditunggu rombongan.

Lanjut setelah belanja berkantong-kantong, jalan ke Jabal Uhud. Gunung Uhud adalah gunung yang menyendiri antara pegungunan yang lain “Jabal Uhud adalah gunung yang mencintai umat muslim, maka umat muslim juga harus mencintainya” kata Rasulullah. Di Gunung Uhud ini terjadi peperangan Uhud  yang menyebabkan 70 sahabat gugur sebagai syuhada, termasuk paman Rasulullah Hamzah bin Abdul Muthalib. Ceritanya begini, terjadi perang antara 700 pasukan muslim dan 3000 pasukan kafir. Lalu ada yang memberi tahu untuk turun bukit saja dan mengambil harta perang, padahal Rasulullah sudah melarangnya. Karena penjagaan diatas bukit sedikit, kaum kafir menyerang kaum muslim dan akhirnya kaum muslim kalah. Kami hanya di bus, tapi saya bisa melihat Jabal Uhud jelas dan juga makam paman nabi, Hamzah.


Alhamdulillah, setelah itu ada perubahan rencana. Kami akan mengunjungi Jabal Magnet, jalan antara daerah perbukitan yang panjang, 3 km/lebih yang memiliki medan magnet yang besar, bahkan bisa menarik bus dan air. Dan itu benar, dari gunung magnet sampat area yang dipagari, bus di posisi netral dan mencoba bukan jalan lagi tapi meluncur! Dari awalnya berhenti sampai jalan.. ..jalan.. ..dan sampai 120 km/h, jelas tidak di gas dan saya melihatnya, karena tidak ada suara berisik mesin. Subhanallah.

Selesai main-main di Jabal Magnet, kami pulang ke hotel. Di jalan kami juga melewati masjid Qiblatain, Qibltain artinya dua arah qiblat. Pada permulaan Islam, orang melakukan salat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Yerusalem/Palestina. Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah. Selesailah ziarah dan sampailah kami di hotel lalu istirahat dan mengikuti briefing untuk Umrah esok harinya. Sekian, nantikan pula catatan ketika di Makkah al Mukarramah.