Rabu, 08 Januari 2014

Labbaik Allahuma Umratan

Minggu, 22 Desember 2013,  Acara utama dari perjalanan ini telah tiba. Yang telah kami tunggu, tujuan utama kami kemari. Sampailah juga waktunya untuk kami Umrah, perasaan senang dalam hati dan batin menghampiri. Sehari sebelum berangkat, kami mengadakan briefing di hotel tentang tata cara dan urutan ibadah Umrah.

Di Jakarta juga sudah ada manasik Umrah dari tour kami, Patuna. Di Madinah ini, kami hanya diingatkan kembali.  Yang berbicara adalah Ustad Mustafa, orangnya ramah dan memakai peci kupluk sepanjang perjalanan

Kami berangkat dari hotel mengenakan pakaian ihram, dan saya sempat selfie bersama bapak saya dengan pakaian ihram. Pertama ialah mengambil miqat dari masjid Bier Ali untuk berniat umrah, lafaznya ialah “Labbaik Allahuma Umratan”  yang artinya saya datang memenuhi panggilan –Mu Ya Allah untuk Umrah.  Dan mengganti  pakaian ihram menjadi bahu kanan terbuka untuk persiapan tawaf

Saya mengantuk ketika dibangunkan katanya di Masjidil Haram. Kami menuju kamar hotel untuk menaruh barang bawaan dulu, perlu diketahui hotel kami adalah Grand Zam-Zam yang ditandai dengan menara jam  super besar. Jam setengah satu pagi, kami turun ke lantai 0, Al haram untuk melanjutkan Tawaf di Ka’bah. Sampai diluar, saya bengong, kaget, bahagia, dan kagum terhadap apa yang saya lihat ini. Sensasi itu, begitu pertama kali menginjakkan kaki di halaman Masjidil Haram, wahh. Rombongan berkumpul di halaman masjid untuk bersama-sama Tawaf.

Masuk ke dalam masjid, dari pintu 1. Lurus, lurus, lurus sampai tiba di ring Ka’bah. Kagum, saya ucapkan segala pujian bagi allah ketika menatap Ka’bah ini. Orang-orang muslim bertawaf mengitari Ka’bah, bagai melihat keseluruhan alam semesta di hadapan saya, Subhanallah. Disinilah kita menghadap, sujud, berdo’a dan tawaf. Tapi, crane di belakang dindig masjid menggangu pemandangan saya. Begitu juga ring tawaf yang baru, seperti jalan layang untuk yang berkursi roda, sepertinya eyang-eyang ada diatas.


Lalu melakukan Tawaf di Ka’bah sebanyak 7 putaran. Dimulai Dari Hajar Aswad berputar berlawanan arah jarum jam, sambil membaca do’a.  Ketika mulai, saya merasa terbawa arus rotasi seperti orang lain. Sambil memegang buku do’a dan berdo’a, sesekali saya menatap ke ka’bah, memperhatikan keagungannya. Ketika berada di rukun Yamani, kami membaca do’a keselamatan dunia akhirat “Rabbana aatina fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah wa kina adzaaban naar”

Saya, bapak, Eyang Ambar dan Eyang Mien, ibu memotret
Eyang Ambar dan Eyang Mien sudah berangkat tawaf duluan, karena mereka menggunakan kursi dorong. Mengapa kita harus berputar berlawanan arah jarum jam atau sisi kiri badan harus menghadap Ka’bah? Beberapa pendapat ulama mengatakan karena jantung manusia terletak disebelah kiri badan. Ustad Mustafa bercerita, ada jamaah beberapa tahun yang lalu tidak ikut manasik jadi ia tawaf di Ka’bah hanya tiga kali, bodohnya.

 Setelah itu adalah Sa’I yaitu lari-lari kecil dari bukit Safa ke bukit Marwa, seperti ketika Siti Hajar mencarikan air untuk anaknya Ismail. Lari dari Safa ke Marwa dihitung satu kali, begitu sampai tujuh kali. Dari bukit Safa sampai Marwa sudah ber-AC, dilapisi lantai, yang terlihat hanya seiprit puncak gunung yang sudah dilapisi semacam semen transparan. Ketika di lampu hijau, dianjurkan untuk berlari-lari kecil bagi laki-laki, tapi di rombongan kami banyak ibu-ibu dan nenek, jadi yang lain jalan. Sudah putaran keenam, kaki sudah terasa kaku dan pegal. Selesai Sa’I kami mencukur rambut, awalnya saya mau cukur gundul, tapi saya tidak jadi dan hanya potong sebagian. Sekarang saya sesali kenapa tidak potong gundul saja, karena sampai jakarta sudah gondrong.


Alhamdulillah, dengan ini telah selesai rangkaian ibadah Umrah kami dan akhirnya kami mendapat pahala Umrah, seperti yang kami harapkan. Kami selesai jam1 pagi lewat, mengantuk sekali, kami langsung ke kamar hotel berganti baju, mandi, tidur. Bersiap untuk tahajud adzan pertama.