Rabu, 17 Februari 2016

The Martian

Kru Ares 3 sedang menjalani misi 31 sol di Mars, semua penelitian dan penjelajahan lancar sampai tiba-tiba bertiuplah badai pasir yang sangat parah dan mengharuskan mereka menggagalkan misi dan meninggalkan Mars. Mark Watney, salah satu dari keenam kru tersebut sedang tidak mujur, ia mengalami kecelakaan dan terpisah dari rekannya saat perjalanan ke pesawat dan rekan-rekannya mengira dia sudah mati. Sendirian di sebuah planet, kecil harapan bagi Mark untuk diselamatkan.

Mark merasa beruntung dan tidak beruntung menemui dirinya masih hidup. Ia selamat dari kecelakaan dan masih memiliki HAB (rumah singgah astronot) untuk melindunginya, namun sistem komunikasi rusak dan HAB hanya dibuat bertahan 31 sol (hitungan hari Mars) dan tidak mungkin membuatnya bertahan sampai tim penjelajah berikutnya (Ares 4) tiba.

Karena ia berada di Mars dan bukan bumi, kebutuhan hidup menjadi lebih sulit dipenuhi dengan sumberdaya dan peralatan terbatas. Oksigen, air, sumber makanan, listrik, komunikasi, semua diperhitungkannya ditambah apabila sesuatu terjadi pada hab yang ditinggalinya atau alat penyokong kehidupannya rusak, maka hidupnya tamat, dan Mark tidak ingin itu terjadi. Dilanda banyak bencana dan kesialan, ia memanfaatkan keahlian teknik mesin dan ilmu botani nya untuk memecahkan masalah dan mengatasi tantangan. Berkat humor dan pola pikirnya yang penuh sarkasme, Mark selalu menemukan titik cerah pada tiap masalah dan menjaga kewarasannya.

Mark Watney kini menjadi Sang penghuni Mars, lebih tepatnya penjajah Mars. Namun ini tidak mengubah kenyataan bahwa waktu dia bisa bertahan tidak banyak dan ia rindu dengan bumi, dengan bertemu manusia, apalagi teman-teman penjelajah angkasanya.

Pemakaman Watney membuat banyak orang syok, mengetahui dia masih hidup dan telah mendirikan daerah jajahannya lebih mengagetkan lagi, apalagi untuk kru Ares 3. Ilmuwan NASA divisi Jet Propolsion Lab mendapat tugas untuk memberi bantuan hidup Watney serta mencari cara untuk membawanya pulang belum lagi tantangan komunikasi yang terputus. Persaingan dengan waktu membuat segala cara pintas, manuver dan ide-ide gila menjadi kunci kesuksesan.

Andy Weir yang telah bekerja sebagai programer lab nasional di usia 15 tahun ini, memberikan makna baru terhadap genre buku fiksi ilmiah, tulisannya dalam novel The Martian ini dibuatnya se-ilmiah mungkin sehingga memunculkan kesan nyata bahwa Mark Watney sedang benar-benar sendirian di Mars memikirkan dan memperhitungkan segala cara agar dia bisa tetap hidup sampai ia diselamatkan.  Meski Andy Weir adalah seorang ahli pemrograman, dia berhasil menceritakan dengan sangat baik bagaimana Mark Watney bisa bertahan hidup dengan bercocok tanam kentang di mars menggunakan tanah mars dan kotoran manusia. Ilmu kimia juga dicurahkan untuk menceritakan proses membuat air dengan alat oksigenator dan bahan bakar roket (hidrazine). Kerumitan dari proses kimia, konsep-konsep ilmiah serta gagasan-gagasan berhasil diungkapkan dalam buku ini dengan sederhana dan mudah dimengerti (setidaknya untuk ukuran anak SMA), itu sebabnya buku ini menjadi rekomendasi penulis untuk fiksi ilmiah yang layak dibaca.

Kalian mungkin akan berpikir tentang kisah ini, mengapa pemerintah dan NASA bersedia mengorbankan segalanya demi Mark Watney. Kembalinya Mark Watney ke bumi aka menandakan perkembangan luar biasa dalam ilmu perjalanan antariksa, rahasia bertahan hidupnya di planet Mars juga sangat berguna bagi masa depan, terlebih, tolong-menolong adalah fitrah dari manusia.