Senin, 29 Desember 2014

Berenang Bersama Ikan

Ya, sudah saya katakan bahwa acara utama perjalanan ini adalah pergi snorkelling di Pulau Weh. Sejak pagi saya sudah antusias untuk berenang bersama ikan, namun sejak pagi hujan menerpa wilayah ini, hujannya tidak terlalu deras tapi tahan lama. Kata orang hotel, hujan tidak mempengaruhi ada atau tidaknya ikan di laut, kami harus berangkat karena ‘the show must go on’. Kami memulai dari pantai di Pulau Rubiah yang terletak di seberang pantai Iboih, berganti baju dan menyiapkan tas maka kami sudah siap berangkat. Tapi karena kaki eyang bengkak karena terlalu banyak jalan maka eyang terpaksa tinggal di hotel, jadi tinggal saya, Mba Tika, Bude Ira dan Pakde Sonny.


Sekitar setengah sepuluh pagi kami dijemput Bang Wandi di hotel, naik boat kurang dari 5 menit ke pantai dan memasang gear snorkelling. Peralatan yang dipakai seperti goggles yang memiliki selang yang mencuat keatas untuk napas, jaket pelampung, dan kaki bebek atau sepatu katak atau apalah. Agar kami bisa snorkelling dengan tenang, kami briefing dahulu di pinggir pantai, harus terbiasa dengan bernapas menggunakan selang dari mulut atau air laut akan terminum. Setelah merasa siap, maka kami langsung berenang menuju laut.

Lionfish di perairan dangkal
Perlahan kami berenang dan semakin ke laut dalam, semakin terlihat beragam ikan dengan warna warni uniknya. Wah, subhanallah, akhirnya saya kesampean juga berenang bersama ikan. Pasir dan batu karang melapisi dasar laut, diatasnya terlihat bulu babi (seperti bola berduri panjang,beracun), ikan hitam dengan ekor kuning, ikan berwarna biru cerah dan ikan eksotis lainnya seperti di film “Life of Pi”. Sambil dikerumuni ikan dengan memberi makan indomie, Bang Wandi memotret dari dalam air, nampak seperti makhluk raksasa yang ingin menggapai ikan. Ikan-ikan yang indah itu berenang tepat didepan muka kita tetapi akan menghindar dengan gesit jika ada yang meraihnya.
Smile, fish!

Makan sate gurita ..(mukanya)
Usai sesi pertama, kami keluar dari air dan menyantap sate gurita pedas! Wah, saus pedasnya enak dan rasanya seperti cumi tetapi karena beli di warung rasanya kurang top, tapi enak dimakan sambil istirahat snorkelling. Saya masih pemula, jadi masih agak kagok dengan bernapas lewat pipa mulut, bahkan Mba Tika terminum banyak padahal lebih pandai berenang daripada saya, ternyata salah pipa napasnya yang bocor... Setelah mendapat energi lagi kami kembali menyelam, kali ini untuk mengambil foto dalam laut (sambil menyelam).


Kali ini kami berenang ke bagian laut lebih dalam, tingginya kira kira <2 meter, semakin banyak terumbu karang berbentuk unik yang terlihat dengan ikan-ikan (dan bulu babi) berenang disekitar dan bersembunyi didalamnya. Bang Wandi mengikat tali ke batu karang dahulu agar bisa menyelam lebih mudah, selagi kami menerawang ke dalam laut memandang ikan. Kami bergiliran untuk foto, ketika bagian saya, saya agak bingung bagaimana agar seluruh tubuh bisa menyelam dan terpanik ketika menahan napas dalam air. Fotonya pun jelek, ada ikan menghalangi seluruh foto L... Mencoba lagi saya berusaha tidak panik, alhasil jepretan Bang Wandi lebih bagus, seakan-akan saya melayang di air dengan ikan sambil melambaikan tangan J


Found Nemo
Sekarang kita naik ke level selanjutnya, kedalaman: entahlah sepertinya dua kali tinggi saya, karena saya sudah tidak bisa memijakkan kaki lagi. Yang lain sudah berhasil, Mba Tika sudah enjoy dan lepas pelampung, Bude Ira selesai bergaya dengan ikan, Pakde Sonny dengan ‘thumbs up’ didalam air. Apa boleh buat, saya masih suka dengan gaya mengambang ikan pari, dua tangan kesamping seakan-akan melayang didalam air. Foto ini ada banyak trial dan errornya, karena pertama jauh lebih dalam dari tempat foto sebelumnya, kedua saya terlalu terlihat memegang tali karena tidak bisa menyelam dengan badan kurus ranting. Selesai sudah narsis bersama ikan, kami kembali ke warung untuk istirahat, namun rupanya Bang Wandi ingin memberi bonus bertemu ikan Nemo (ikan badut). Tapi saya sudah menggigil, dan Bude Ira juga sudah kram, tapi sangat tanggung apabila saya tidak melakukannya.

Berangkat lagi untuk berenang, menyusuri pantai batu karang Pulau Rubiah, kami terombang-ambing ke laut bebas yang amat dalam dengan batu karang tajam di kanan, dan jangan lupakan ikan warna-warni yang berenang di dasar laut. Sekarang ada Semacam bintang laut ungu berduri, tripang atau timun laut, lionfish, ikan bundar biru tua raksasa, membuat kenampakan alam yang tadi tidak ada apa-apanya. Kami mendekati ujung pulau, dengan ombak yang besar menerjang, dan akhirnya si Nemo menampakkan diri. Dia sedang bersembunyi didalam anemonnya, Mba Tika berhasil menyelam bertemu Nemo, seperti sedang memegang anemon. Saya juga akan menyelam namun tiba-tiba salah satu jari kaki saya kaku, aduuuh, benar-benar sial. Pakde Sonny mencoba menolong tapi malah ikutan kram K. Akhirnya saya tidak jadi foto dan kembali ke daratan, awalnya mau lewat kapal karena darurat tapi dibawahnya berjejer rapi bulu babi yang mau menambahkan rasa pada kaki saya...

 


Lelah, kram, bahagia serta sebuah pengalaman yang membekas bagi saya, mengakhiri petualangan di laut ini kami makan indomie sebelum kembali ke Iboih Inn. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan kami bisa menikmati keindahan Allah ini secara langsung, dan telah memberikan saya pengalaman berharga dan motivasi untuk belajar berenang. Di hotel, eyang sudah menunggu dan kami hadiahkan dengan sate gurita, eyang sangat senang mendengar cerita perjalanan kami. Saya juga sudah puas akhirnya bisa snorkelling di ujung barat Indonesia yang menakjubkan. Big thanks kepada Allah dan Bang Wandi, semoga lain kali bisa kembali kesana dengan kedua orang tua saya...